Nglamar Driver Ditolak, Pria Ini Malah Sukses Buat Ojol Difabel
Nglamar Driver Ditolak, Pria Ini Malah Sukses Buat Ojol Difabel

Nglamar Driver Ditolak, Pria Ini Malah Sukses Buat Ojol Difabel

banner
SUARAKAN.COM: Layanan Ojek di Yogyakarta bukan hanya milik Grab atau Go-Jek.

Di Yogya, ada layanan antar bermotor pula bernama Difa Bike yang sudah beroperasi sejak 2015 silam. 

Konon kabarnya, layanan ini ada karena saat itu sang pendiri gagal alias ditolak saat mendaftar di layanan jasa ojek online karena keterbatasan fisik yang ia miliki.

Ya, Difa Bike memang bukan ojek biasa. Layanan ini merupakan bentukan seorang pemuda penyandang difabel bernama, Triyono. Yang saat itu prihatin tak kondusifnya layanan angkutan umum yang disediakan pemerintah dan juga koperasi angkutan swasta bagi difabel.

Bermodal niat, Triyono lantas memodifikasi sebuah moda berbasis sepeda motor yang ramah difabel.  Sederhananya, unit motor diberi semacam side van atau boncengan di bagian samping.

Unit itu dikerjakan di bengkel las kenalan Triyono di Yogya, agar tak sekedar nyaman bagi penumpangnya namun juga friendly saat dikemudikan oleh penyandang difabel ringan.

Siapa sangka, usaha layanan antar difabel yang awalnya bernama Difa Transport dan Tour itu malah berkembang lumayan pesat setelah lima tahun beroperasi.

"Sekarang sudah ada 26 driver bergabung di sini, dengan rate tarikan per hari normal rata rata 4 kali dan pas weekend atau liburan sampai 12 kali," ujar Triyono ditemui di markas Difa Bike kampung Bugisan Kota Yogya Rabu 26 November 2019.

Triyono menuturkan, layanan yang kini sudah disertai aplikasi untuk pemesanan di platform Play Store itu seluruhnya dioperasikan penyandang disabilitas ringan. Seperti tunadaksa atau mengalami malfungsi pada salah satu bagian tubuh namun masih bisa beraktivitas layaknya orang normal lainnya.


"Kami tak mau eksklusif. Sekarang sebenarnya kami sudah tidak lagi memfokuskan diri hanya melayani difabel tapi juga orang normal umumnya, selain untuk difable," ujarnya.

Namun diakuinya, mengubah persepsi orang 'normal' soal image difabel sebagai pengemudi tak gampang. Suatu waktu pernah ada order layanan kepada Difa Bike untuk tujuan ke suatu destinasi di kota Yogya.

Namun ternyata di tengah jalan penumpang ibu dan anak itu berhenti dan memilih berganti memesan ojek online gara gara sang anak terus menangis melihat kondisi driver.

"Padahal mereka sudah bayar penuh sesuai tujuan, jadi malah membuat driver kebingungan karena juga tidak ada apa apa," ujar Triyono.

Triyono pun menuturkan saat ini pelanggannya masih dominan kaum difabel, seperti tunadaksa dengan alat bantu tongkat, kaki palsu, kursi roda, dan yang paling banyak adalah tunanetra.

Jika pelanggan memesan layanan melalui aplikasi Difa Bike, pertama akan masuk menu untuk memilih jenis layanannya apakah umum atau khusus (difabel). Sebab pemilihan layanan ini akan menentukan driver mana dan sarana moda yang mana yang akan diterjunkan. Catatan itu masuk notifikasi semua.

Apakah pemesan membutuhkan kursi roda atau alat bantu lainnya dan driver difabel yang dipilih yang bisa melakukan apa saja. Misalnya ternyata pemesan adalah difabel yang memakai kursi roda dan tunanetra, maka Difa Bike akan menerjunkan driver yang bisa membantu mobilitasnya.

“Untuk penumpang umum yang bisa bergerak leluasa justru kami turunkan driver difabel yang agak berat, yang tk perlu turun dari motor,” ujarnya.

Layanan Difa Bike ini menggunakan sistem bagi hasil antara operator dengan drivernya. Adapun tarif yang dikenakan yakni Rp 20 ribu per lima kilometer untuk layanan khusus (difabel) dan Rp 25 ribu per lima kilometer untuk umum.

Jika jarak tempuh lebih dari lima kilometer maka hitungannya Rp 2.500 per kilometer dan hitungan masa tunggu kurang dari satu jam dikenai tambahan Rp 10 ribu.

Sedangkan jika dalam layanan masa tunggu lebih dari 1 jam maka langsung dihitung dengan sistem carter (maksimal 4 jam) yakni Rp 100 ribu per jam untuk layanan khusus difabel dan Rp 125 untuk layanan umum.

"Warga umum yang sering memakai layanan malah biasanya turis manca. Mungkin karena kulturnya di sana menganggap setara difabel jadi mereka biasa saja malahan," ujarnya.

Dengan pelanggan mayoritas dari kelompok difabel rata rata tujuan yang dipesan pelanggan adalah rumah sakit. Karena para difabel ini kerap berpergian dengan tujuan berobat.

Namun berbeda jika yang memesan pelanggan umum. Karena layanan yang dinaungi perusahaan bernama CV Dika Berkarya ini pun memiliki sejumlah paket City Tour, dengan rute keliling Kota Yogya.

Tri mengungkapkan kadang ada pula turis yang meminta diantar sampai luar kota seperti dari Yogya ke Candi Borobudur. Permintaan luar kota itu pun tetap dilayani oleh sang driver dengan tariff Yogya-Borobudur Rp 300 ribu.

Difa Bike sendiri memiliki sejumlah titik penjemputan yang menyebar di tiga kabupaten/kota DIY. Mulai Kabupaten Sleman, Kota Yogya dan Kabupaten Bantul. Kecuali Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo karena medannya dengan jalan naik turun dirasa tak memungkinkan. (**/sup)
Advertisement banner

Baca juga:

banner
Admin
Fusce justo lacus, sagittis vel enim vitae, euismod adipiscing ligula. Maecenas cursus gravida quam a auctor. Etiam vestibulum nulla id diam consectetur condimentum.