SUARAKAN.COM — Aspek penguasaan teknik membaca notasi musik secara langsung atau prima vista serta ketajaman telinga dalam mengidentifikasi nada (solfegio) dipastikan menjadi batu ujian terberat bagi para calon delegasi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam proses seleksi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara 2026 yang resmi dibuka mulai Jumat, 29 Mei 2026, Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta tetap mempertahankan standar pengujian tinggi tersebut sebagai parameter utama kelulusan.
Kemampuan teknis yang komprehensif ini sengaja diterapkan untuk menyaring talenta orisinal yang benar-benar siap mental sebelum dikirim ke Jakarta. Pemenang terbaik dari ajang ini nantinya akan mengemban tugas negara yang sangat krusial, yaitu bergabung dalam tim paduan suara nasional untuk tampil pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.
Salah satu anggota dewan juri daerah yang juga merupakan dosen musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Pancasona Adji membeberkan secara rinci mengenai variabel-variabel penentu yang akan menjadi fokus penilaian tim juri di atas panggung nanti. Menurutnya, para peserta tidak bisa hanya mengandalkan kemerduan vokal alami tanpa dibekali dengan literasi musik yang kuat.
"Aspek penilaian meliputi kualitas materi suara, teknik vokal, interpretasi, kepatuhan terhadap partitur, serta kemampuan membaca notasi musik. Mayoritas sudah menyiapkan, tapi setelah maju jadi grogi, akhirnya tidak bisa menunjukkan kemampuan. Untuk itu kesiapan harus benar-benar 100 persen agar kapasitas dan bakat bisa keluar sepenuhnya," jelas Adji saat menghadiri acara sosialisasi kompetisi di Kantor Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat, 29 Mei 2026.
Adji akan menguji para peserta bersama jajaran tim juri daerah lainnya yang terdiri dari Linda Sitinjak, Drijastuti Jogjaningrum, Retno Pujiwati, serta didampingi oleh satu perwakilan dari tim juri pusat. Ia menambahkan bahwa sebelum menghadapi penampilan utama, peserta harus melewati rentetan pengujian teknis yang ketat mulai dari pembacaan ritme hingga ketepatan solfeggio untuk melihat ketahanan musikalitas mereka.
Tingginya standar kriteria penilaian yang ditetapkan oleh tim juri lokal ini juga diakui oleh Kepala Seksi Seni Pertunjukan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Zita Uttungga Dewi Maharani. Zita menjelaskan bahwa kompleksitas materi ujian inilah yang membuat proses seleksi di Yogyakarta selalu dijadikan sebagai tolok ukur atau patokan bagi dinas kebudayaan di provinsi-provinsi lain di Indonesia.
"Kalau untuk kualitas, bagus. Ini diakui oleh juri pusat di tahun kemarin, bahwa kualitas yang ada di DIY ini cukup berada di atas rata-rata. Jadi seleksi yang ada di DIY ini menjadi patokan juga untuk teman-teman di provinsi lain. Karena kalau di provinsi lain kemungkinan seleksinya terbatas dan yang diujikan juga terbatas. Tetapi di sini seleksinya lebih kompleks. Jadi memang perlu ada sosialisasi info tambahan supaya peserta ini tidak kaget. Karena tesnya tidak hanya sekadar bisa bernyanyi, tapi dia juga harus tahu prima vista, solfegio, dan segala macam," urai Zita.
Zita menambahkan, guna mengantisipasi kegugupan teknis dan membimbing para peserta memahami metode pembacaan partitur yang baik, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta telah menyiapkan agenda *workshop* pembekalan gratis pada tanggal 20 Juni 2026 mendatang. Fasilitas ini terbuka bagi seluruh pendaftar yang telah melayangkan berkas secara daring.
Program penjaringan bakat yang didanai penuh oleh alokasi Dana Keistimewaan ini ditujukan bagi kalangan muda berusia 16 sampai dengan 23 tahun, berstatus belum menikah, sehat jasmani dan rohani, serta wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta. Kompetisi ini terbagi ke dalam empat rumpun kategori warna suara, yakni Sopran, Alto, Tenor, dan Bass.
Pendaftaran daring diproses melalui tautan resmi s.id/daftarGBNDIY2026 dan akan terus dibuka hingga tanggal 6 Juli 2026. Berdasarkan lini masa yang dirilis panitia, para peserta yang lolos berkas administrasi selanjutnya akan mengikuti tahapan pengambilan nada dasar pada 9 Juli 2026, sebelum akhirnya bertarung dalam babak audisi utama pada 10 Juli 2026 di Kantor Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain memperebutkan tiket emas ke Istana Merdeka, pihak dinas juga menyediakan stimulus berupa total uang pembinaan senilai Rp62.000.000 serta plakat dan piagam bagi para pemenang Juara I hingga Juara V di setiap kategori suara.
